(karya angelina farron)
Tokyo, Jepang
Disebuah komplek perumahan elit di tengah kota Tokyo. Tepatnya di sebuah rumah bertingkat dan berpagar putih.
Seorang cewek berambut panjang sepunggung dan diikat buntut kuda mengendap-endap ke depan sebuah pintu kamar. Cewek itu tidak sendiri. Dia bersama keempat temannya. Salah satu temannya membawa sebuah cake coklat yang diatasnya ada lilin berbentuk angka 12. Sedang yang lain masing-masing memegang sebuah kado, termasuk cewek tadi. Tidak tampak seorangpun dirumah. Mungkin penghuni rumah tersebut sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kelima cewek itu sampai di depan kamar yang ada gantungan pintu berbentuk bunga sakura dan bertuliskan:
RISKA’S ROOM.
“Udah siap Ayano?” Tanya cewek berambut ikat kuda tadi pada temannya yang memegang cake coklat.
Temannya yang bernama Ayano mengacungkan jempol. “Siap Anita…”
Anita membuka pintu kamar tersebut dengan sangat pelan. Di dalam kamar yang didominasi warna ungu muda itu, seorang gadis kecil masih terlelap di kasurnya yang ada di dekat jendela kamar yang masih tertutup korden tebal berwarna putih. Anita dan teman-temannya mendekati tempat tidur gadis kecil itu.
“Semua siap?” bisik Anita pelan. “Satu… dua… tiga!”
Serentak mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan langsung membuat gadis kecil itu terbangun dan mengerjap-ngerjap kaget.
“Kak Anita? Kak Ayano? Kak Ruri? Kak Mei? Kak Kaori?” gadis kecil itu menoleh kearah mereka dengan kening berkerut, “Ada apa?”
“Selamat ulang tahun adikku, Riska sayang…” kata Anita sambil memeluk gadis kecil yang ternyata adalah Riska itu.. “Kamu kan hari ini ulang tahun…”
“Aku? Ulang tahun?” Tanya Riska bingung. Sedetik kemudian dia menepuk keningnya. “O iya… aku kan ulang tahun hari ini.”
Riska langsung memeluk kakaknya, “Makasih kak.”
“Ayo Ris… tiup lilinnya.” Kata Ayano sambil menyodorkan cake coklat tadi ke depan Riska. “Buat permintaan ya?”
Riska mengangguk senang kemudian menutup mata dan meniup lilinnya dalam satu kali tiup.
“Yeeii…”
Riska tersenyum girang saat melihat kado di masing-masing tangan Anita dan teman-temannya. “Buat aku kak? Hadiahnya?” katanya sambil berusaha menggapai kado di tangan Anita.
Anita menjauhkan kado ditangannya dari Riska. Riska langsung cemberut karena kakaknya menjauhkan hadiah untuknya.
“”Yah… kakak…”
“Sebelum kamu dapat hadiah dari Kakak dan teman-teman kakak…” Anita tersenyum pada teman-temannya, “Kamu mandi dulu! Kita jalan-jalan ke Disneyland. Ayo!”
***
Setengah jam kemudian Riska udah siap. Dia mengenakan topi lebarnya dan turun ke lantai bawah, ke ruang tamu tempat kakak dan teman-temannya menunggu.
Anita yang lagi asyik membaca majalah melihat adiknya itu udah siap.
“Udah siap nih?” Tanya Anita saat Riska sudah didekatnya. Riska mengangguk girnag.
“Oke. Yuk, teman-teman. Kita berangkat sekarang.”
***
Anita mengelap keringat yang membasahi wajahnya dengan tisu ditangannya. Sekarang mereka ada disebuah tempat semacam kafe yang ada di Disneyland (Disneyland yang ada di Jepang. Bukan di Amrik). Beberapa kali dia minum atau pergi ke tempat yang teduh. Ini tentu membuat Anita heran. Kenapa tiba-tiba hari ini dia berkeringat banyak? Padahal dari tadi dia nggak ngapa-ngapain kecuali minum air yang tadi dia beli dari penjual minuman di depan tadi.
“Anita-chan?” panggil Kaori yang duduk disebelahnya, “Kamu tidak apa-apa? Dari tadi kamu berkeringat. Kamu sakit?”
Anita menggeleng, “Aku tidak apa-apa, kok.” Jawabnya, “Mungkin hanya kecapekan.”
“Tapi dari tadi kita udah berhenti lima kali untuk kamu istirahat sebentar.” Kata Kaori. “Lebih baik kita pulang sekarang. Aku akan bilang pada yang lain.”
“Aku beneran tidak apa-apa Kaori.” Kata Anita menenangkan, “Sungguh. Tidak apa-apa kok…”
Kaori menatap tajam wajah Anita. Kemudian menghela nafas pelan, “Baiklah.”
“Ayo kita kesana. Riska pasti sudah selesai makan es krimnya.”
***
Hari ini Riska benar-benar dimanja oleh Kakaknya dan juga teman-temannya. Seharian itu mereka menikmati wahana permainan yang ada disana.
“Kamu senang, Riska?” Tanya Ayano sambil berjalan bersama yang lain.
Riska mengangguk senang, “Senang, Kak. Senang banget!” katanya tersenyum lebar.
“Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.” Kata Anita. Dia mengambil HP yang ada disaku roknya. “Kita foto-foto yuk?”
“Oke.”
Beberapa pengunjung Disneyland yang melihat mereka berhenti sebentar.
“Eh, itu bukannya Charm Girls? Yang Girlband dari Tokyo itu?” bisik salah seorang pengunjung pada teman disampingnya.
“Iya benar! Itu Charm Girls. Wah… mereka cantik-cantik ya?”
Riska memandang mereka semua dengan tatapan bangga. Kakaknya dan teman-temannya memang adalah girlband terkenal dengan nama Charm Girls. Dan Anita adalah leader-nya. Charm Girls sudah menelurkan sepuluh single dan lima album, dan semuanya laris manis di pasaran. Tapi, walau sudah menjadi artis terkenal, mereka tidak pernah melewatkan liburan bersama keluarga atau teman-teman mereka. Liburan dengan Riska merupakan salah satunya.
Beberapa pengunjung mendekati mereka dan meminta foto bareng atau tanda tangan. Anita dan teman-temannya melayani dengan sabar. Pada saat itulah mereka melihat ada wartawan yang berjalan mendekati mereka.
“Ada wartawan!” kata Mei. “Kita kabur sekarang?”
“Ayo. Aku lagi males diwawancara nih… masa, liburan masih aja diwawancara?” kata Ruri.
“Ayo! Kita langsung ke mobil.” Kata Kaori.
Mei yang ada didekat Riska segera menggandeng tangan Riska, “Ayo Ris, kita lari.”
Riska mengangguk paham. Kemudian ikut berlari bersama Mei. Sementara itu, para wartawan yang melihat Anita dan teman-temannya berlari langsung mengejar. Walau hari libur, tapi wartawan tidak akan pernah libur meliput hal apapun. Termasuk tentang artis terkenal seperti Charm Girls.
Saat melewati kerumunan orang-orang yang lalu lalang, tanpa sadar tangan Mei yang menggandeng tangan Riska terlepas karena bertabrakan dengan pengunjung dan tidak menyadari kalau ia tidak lagi menggandeng Riska.
Riska yang terjatuh berdiri dan melihat sekeliling. Mei sudah berlari jauh dari tempatnya dan tidak terlihat lagi.
“Kak? Kak Mei?” panggil Riska panik. “Kak Anita? Kak Ayano? Kalian dimana?”
Riska berjalan sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan HP-nya yang berwarna biru dan mempunyai gantungan berbentuk pita berwarna putih. “Mungkin kakak sudah ada dimobil. Aku hubungi saja dulu.”
Sambil berjalan, Riska membuka HP-nya dan mencari nomor HP kakaknya. Dari arah berlawanan, tiba-tiba seseorang menabrak Riska. Hampir saja dia jatuh kalau tidak menjaga keseimbangan tubuhnya. Riska mendongak dan melihat sekelompok cowok didepannya. Penampilan mereka seperti preman. Cowok ditengah yang memakai topi bisbol tadi yang menabrak Riska.
“Maaf kak. Aku nggak liat jalan.” Kata Riska sambil membungkuk minta maaf, kemudian berjalan lagi sambil mencoba menelepon kakaknya.
“Hei, bukankah itu Riska? Adik Anita Kubota yang member Charm Girls itu?” bisik teman si cowok tadi. “Yang mantan pacarmu itu?”
“Iya, benar juga.” Kata cowok bertopi bisbol itu, “Adiknya cantik juga. Seperti kakaknya.”
“Bagaimana kalau kita mencari kakaknya? Sepertinya dia tersesat.” Bisik yang lain.
Seorang temannya yang ada dibelakang tiba-tiba berbicara.
“Bagaimana kalau kita culik dia? Kita minta tebusan?”
Cowok tadi dan juga teman-temannya langsung menoleh kearah temannya yang tadi berbicara.
“Culik? Maksud kamu?”
“Sederhana. Kita culik anak itu dan minta uang tebusan. Bukankah sekarang kita sedang tidak punya uang? Ini kesempatan yang bagus. Biasanya artis terkenal punya banyak uang, dan mereka rela mengeluarkan berapapun juga yang kita mau.” Kata temannya itu.
Rupanya sekelompok cowok itu memang preman. Dan mereka ke taman bermain itu untuk menghabiskan waktu sebelum mereka mulai merampok pada malam hari. Padahl usia mereka sepertinya masih dua puluh lima tahunan. Dan melihat Riska yang adalah adik Anita, mereka jadi berpikir tentang usul teman mereka tadi. Bahkan cowok yang bertopi bisbol itu usianya baru dua puluh tahun.
“Bagaimana Jun?” Tanya yang lain pada cowok bertopi bisbol tadi.
“Aku rasa itu ide yang bagus.” Kata Jun, “Kita bisa culik anak itu dan minta uang tebusan. Lagipula aku punya dendam padanya.”
“Baiklah. Kita culik anak itu sekarang.” Kata Jun lagi.
Seorang temannya mengambil saputangan disaku jaketnya dan membubuhinya dengan obat bius. Kemudian mereka segera mendekati Riska yang masih belum jauh dari tempat mereka berdiri. Mereka mengikuti Riska yang berjalan ke tempat yang agak sepi untuk menelpon Kakaknya.
“Kok nggak diangkat ya? Apa HP Kak Anita mati?” gumam Riska sambil memandang HP-nya. “Aku coba lagi deh.”
Jun memberi aba-aba pada temannya yang memegang saputangan yang sudah berada dibelakang Riska.
“Sekarang!”
Teman Jun langsung membekap mulut Riska dari belakang. Tentu saja Riska kaget dan berusaha berontak. Tapi karena pengaruh obat bius, lama-lama pandangan Riska kabur dan akhirnya ia pingsan. HP yang digenggamnya terjatuh ke tanah.
“Cepat kita bawa dia!” perintah Jun.
Temannya langsung menggendong Riska. Jun melihat keadaan sekeliling. Setelah dirasa aman, mereka segera pergi dari sana. Tentu saja mereka berhasil mengelabui petugas yang ada dipintu keluar dengan alasan Riska adalah adik mereka.
***
Anita dan teman-temannya bersembunyi dibelakang sebuah kafe. Setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian. Mereka melihat para wartawan itu berlari melewati kafe tempat mereka bersembunyi tadi.
“Hufhh… hampir saja.” Kata Ruri sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari tadi. Teman-temannya mengangguk setuju.
“Padahal aku kira bisa melewati satu hari ini tanpa wartawan.” Kata Anita.
“Oya, dimana Riska?” Tanya Kaori yang tidak melihat Riska diantara mereka. “Bukannya tadi dia bersamamu Mei?”
Anita juga menyadarinya Riska tidak ada. “Benar juga. Riska dimana Mei?
Wajah Mei langsung berubah panik. “Jangan-jangan dia…”
“Apa?”
“Tadi kami sempat bertabrakan dengan seorang pengunjung. Dan aku tidak sadar kalau tanganku melepas tangannya…”
“APA???” jerit Anita.
“Ma, maaf Anita. Aku juga baru sadar dia tidak lagi bersamaku.”
“Kamu ini bagaimana sih? Masalahnya bukan itu Mei!” kata Anita mulai panik. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. “Riska belum pernah pergi keluar selain ke sekolah atau ke tempat lesnya selama ini karena sakit. Dia pasti tersesat di Disneyland yang sebesar ini. Dia pasti mencari-cari kita.”
“Maaf Anita… aku…”
“Sudahlah!” kata Ruri menengahi, “Bertengkar tidak ada gunanya. Mei, lain kali kamu jangan teledor menjaga Riska. Anita benar. Selama ini Riska belum pernah keluar rumah selain ke sekolah atau ke tempat les.
“Dan Anita, kamu jangan cepat naik darah. Mei tidak sengaja melepas tangannya dari tangan Riska, dan itu harus kamu maklumi karena saat ini Disneyland penuh dengan pengunjung.” Kata Ruri.
Anita menunduk menatap kakinya, sepertinya ia menyadari kalau dia terlalu cepat naik darah.
“Maaf Mei. Aku… aku cuma panik. Aku takut Riska kenapa-napa.”
“Tidak Anita. Aku yang salah karena melepas tangan Riska tadi. Aku juga minta maaf.” Kata Mei.
Ruri tersenyum melihat Anita dan Mei sudah berbaikan.
“Nah… begitu dong. Jadi kan, nggak perlu bertengkar.” Katanya, “Sekarang, ayo kita cari Riska lalu pulang. Dia mungkin masih mencari-cari kita.”
Anita mengangguk. Tapi entah kenapa perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak.
***
“Kalian menemukannya?” Tanya Anita.
Kaori, Mei, Ruri dan Ayano menggeleng. Mereka sudah mencari Riska dari tadi tapi tidak juga menemukannya. Memang tidak gampang mencari seseorang di Disneyland yang luasnya saja melebihi lapangan sepak bola.
“Coba kamu telpon. Siapa tau dia sedang ada di kafe atau di took es krim.” Usul Kaori.
Anita mengangguk. Kemudian mengambil HP-nya, “Riska sudah mencoba menelponku dua kali tadi. Lihat.”
“Benar. Coba kamu telpon dia lagi.”
Anita menekan tombol di HP-nya dan menempelkannya ke telinga kanannya. Saat itulah mereka mendengar nada dering HP, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Kalian dengar suara nada dering HP tidak?” Tanya Ayano. “Ini seperti suara nada dering HP Riska. Iya kan?”
“Benar juga. Tapi darimana asalnya?” kata Kaori.
“Ah! Lihat itu!” seru Mei menunjuk sesuatu di depan mereka.
Anita dan teman-temannya melihat kearah yang ditunjuk. Sebuah HP berwarna biru dengan gantungan HP berbentuk pita ada di depan mereka.
“Itu HP Riska!”
Anita segera berlari dan mengambil HP Riska yang tergeletak ditanah.
“Ini memang HP-nya. Tapi dimana Riska?”
Sebelum mendapat jawabannya, HP Riska tiba-tiba berbunyi. Anita segera membuka flip HP Riska dan menjawab telepon yang masuk. “Halo?”
“Kau pasti Anita Kubota kan?”
Mendengar suara di seberang telepon yang terdengar aneh dan berat membuat Anita mengerutkan kening. “Ya. Siapa ini? Bagaimana kamu tau nomor HP ini?”
“Dengar baik-baik,” kata si penelepon, “Adikmu sekarang ada ditangan kami. Kalau kamu ingin dia kembali, malam ini siapkan uang seratus juta Yen dan datang ke tempat kita akan melakukan transaksi pertukaran dengan adikmu.”
“Apa? Siapa ini? Apa maksudmu? Dimana Riska?”
“Dengar, siapkan uang seratus juta Yen dan bawa uang itu ke tempat yang akan kami tentukan sebagai tempat transaksi. Jika kau tidak membawa uangnya, maka adikmu akan mati malam ini juga. Dan ingat, jangan lapor polisi!”
“Apa yang kalian lakukan pada Riska? Dimana dia?” Tanya Anita. Tapi sambungan telepon sudah terputus. “Halo? Halo???”
“Ada apa Anita?” Tanya Kaori.
“Riska… Riska diculik…” kata Anita.
“Diculik?”
“Dan penculiknya bilang aku harus menyiapkan uang seratus juta Yen untuk tebusan.” Kata Anita sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. “Aku harus menuruti perintah penculik Riska kalau mau Riska selamat. Aku akan datang kesana sendiri. Mereka bilang kita tidak boleh lapor polisi.”
“Jangan bertindak gegabah Anita!” kata Ayano, “Kita harus lapor polisi.”
“Tapi kalau kita lapor polisi, mereka akan membunuh Riska!” kata Anita.
“Anita, tenang dulu.” Kata Kaori. “Kita memang harus lapor pada polisi. Tapi tanpa diketahui si penculik itu. Biar nanti aku hubungi pamanku. Dia seorang jendral polisi. Aku akan minta bantuannya.”
“Terima kasih Kaori,” kata Anita, “Tapi… aku harus menyiapkan uang seratus juta. Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Aku tidak berani memintanya pada orangtuaku. Mereka pasti juga akan panik kalau tahu Riska diculik.”
“Biar aku yang menyiapkannya.” Kata Mei, “Ini juga karena salahku Riska diculik. Biar aku yang menyiapkan uangnya.”
Anita menatap haru pada Mei. Dia lalu memeluk Mei sambil menangis, “Terima kasih Mei. Aku berhutang budi padamu.”
“Tidak apa-apaa. Ini juga karena salahku. Jadi biarkan aku menebusnya.”
“Sebaiknya kita kembali ke rumah. Anita, orangtuamu masih ada di Amerika dan akan pulang besok pagi kan? Kami akan menginap dirumahmu malam ini.” Kata Ayano.
***
Disebuah gudang bekas pabrik yang sudah tidak terpakai lagi, Jun dan teman-temannya sedang berpesta minuman keras. Riska ada dipojok gudang. Dengan tangan diikat dan matanya ditutp dengan saputangan panjang. Mulutnya juga dilakban.
“Kau yakin dia ketakutan saat tahu adiknya kita culik?” Tanya temannya.
Jun yang sedang menenggak minuman keras tersenyum dengan sebelah bibirnya, “Tentu saja. Dari suaranya aku tahu dia sangat panik. Tidak salah kita menculiknya. Anak itu bisa menghasilkan uang banyak untuk kita.”
“Kita akan kaya! Uang seratus juta pasti mudah untuk artis seperti Anita Kubota.”
“Mari kita bersulang untuk uang yang akan kita terima nanti.” Ajak temannya sambil mengangkat botol minuman keras yang ada ditangannya.
Mereka kembali menenggak minuman tersebut dan tertawa-tawa.
Riska sudah sadar. Tapi karena matanya ditutup dia tidak tahu dia ada dimana. Ditambah lagi kedua tangannya diikat serta mulutnya dilakban.
Aku ada dimana? Kenapa tanganku diikat? Batin Riska.
Jun yang melihat gerakan Riska yang sudah sadar, mendekati Riska dan berjongkok disebelahnya. “Sudah sadar anak manis?”
Riska menoleh ke sebelahnya dan mencium bau alcohol yang sangat menyengat.
“Tidak usah takut. Kami orang baik.” Kata Jun.
Riska mendongak walau dia tidak bisa melihat Jun karena matanya tertutup. Bulu kuduk Riska merinding mendengar nada bicara Jun yang terkesan dibuat-buat.
“Kau tunggu saja disini sampai malam nanti. Kakakmu akan segera menjemputmu.” Kata Jun sambil mengelus pipi Riska. Riska refleks menjauh dan menempelkan tubuhnya ke dinding karena ketakutan.
Jun tersenyum dengan sebelah bibirnya kemudian bangkit dan kembali melanjutkan pestanya bersama teman-temannya.
Riska masih ketakutan. Badannya gemetar.
Kakak… tolong aku!
***
Malam harinya
Anita melihat jam tangannya dan mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru pabrik bekas yang menjadi tempat transaksi. Udara malam yang dingin membuat tubuhnya menggigil. Maklum saja, musim dingin sebentar lagi akan tiba. Bahkan hembusan nafas Anita berubah menjadi seperti asap rokok. Dia teringat lagi dengan perkataan paman Kaori yang akan menangkap penculik Riska.
“Paman akan mengikutimu sampai ke pabrik itu dan bersembunyi disuatu tempat, tapi bisa melihat keberadaanmu dimana.” Kata paman Kaori yang bernama Hatori itu. “Paman juga sedang mencari sekelompok penculik yang belakangan ini juga menculik anak-anak dan minta tebusan yang besar. Mungkin penculik yang menculik adikmu adalah penculik yang paman cari. Kamu tenang saja. Ikuti saja perintah paman untuk merebut adikmu kembali.”
Sekarang Anita sudah berada disini. Dia tidak tahu dimana Hatori bersembunyi bersama anak buahnya.
HP disaku jaketnya berbunyi. Cepat-cepat Anita mengambilnya dan mengangkat telepon yang masuk. “Halo?”
“Sekarang kamu ke sisi utara. Ke gudang berwarna putih yang jaraknya sepuluh meter dari tempatmu sekarang berdiri.” Sambungan telepon langsung terputus.
Anita berjalan ke utara sesuai perintah si penculik. Sementara Paman Hatori dan anak buahnya mengikuti dengan sembunyi-sembunyi.
Sampai di gudang berwarna putih, Anita berjalan ke sisi sebelahnya. Penerangan disana sangat terbatas karena beberapa bola lampu di setiap tiang lampu disekitar situ rusak. Anita perlahan berjalan kesana dan melihat sesuatu didepannya. Anita menyipitkan mata utnuk melihatnya. Seketika itu juga dia terbelalak. Cepat dia berlari kearah sesuatu didepannya.
“Riska!”
Riska yang masih terikat dan sekarang duduk dikursi menoleh kearah suara Anita. Anita membuka penutup mata Riska dan melepas lakban dimulutnya. Dia juga melepaskan ikatan pada tangan Riska.
“Kakak…”
Anita serta merta langsung memeluk adiknya sambil menangis. “Syukurlah kamu baik-baik saja Ris…”
“Kakak… aku takut kak…”
Anita melepaskan pelukannya dan melihat ke sekeliling. Dimana penculiknya? Tidak mungkin dia dan Riska dilepaskan begitu saja.
Anita merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya. Ia berbalik dan melihat Jun menodongkan pistol kearahnya. Teman-temannya juga ada disana. Salah seorang temannya yang memegang pisau yang tanpa disadari berada di belakang Riska langsung membekap mulut Riska dan menariknya menjauh dari Anita sejauh tiga meter.
“Riska!”
“Jangan bergerak! Atau peluru pistol ini akan menembus kepalamu!” ancam Jun.
Mendengar ancaman Jun, Anita menoleh kearahnya. “Kau…”
“Kita bertemu lagi Anita.” Kata Jun.
“Kamu yang menculik Riska?” Tanya Anita tidak percaya. Sepertinya dia kenal dengan Jun.
“Aku hanya mau bermain-main sedikit denganmu. Karena itu aku menculik adikmu.” Jawab Jun, “Lagipula aku masih punya dendam denganmu.”
“Dendam? Apa maksudmu?” Tanya Anita.
Anita memang mengenal Jun. Dulu Jun adalah pacarnya. Tapi karena Jun berselingkuh, Anita memutuskannya dan bersumpah tidak mau lagi melihat Jun karena ternyata Jun bukanlah orang yang baik karena ternyata Jun adalah salah seorang dari komplotan penjahat. Tapi Anita tidak menyangka Jun-lah yang menculik Riska. Dia juga tidak tahu apa yang dimaksud dengan dendam oleh Jun tadi.
“Sebenarnya bukan dendam. Tapi aku sakit hati padamu.” Kata Jun. “Karena kamu memutuskan aku.”
“Sakit hati? Kamulah yang sudah membuatku sakit hati, Jun. Kamu berselingkuh di belakang aku. Dan kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Itu karena salahmu sendiri.” Balas Anita.
“Tapi kau tidak seharusnya memutuskan hubungan kita. Kamu malah berdekatan dengan Akira. Temanku sendiri.”
“Tapi dia lebih baik darimu! Yang bisanya hanya menculik dan merampok!”
Memang benar, setelah putus dengan Jun, Anita memang dekat teman Jun di SMA yang bernama Akira. Karena saat itu Anita frustasi dan tidak bisa menerima kalau Jun ternyata lebih buruk dari yang ia kira. Akira-lah yang selalu menghibur Anita karena dia juga tahu Jun seperti apa. Beberapa bulan Akira menemaninya, dan akhirnya Akira mengutarakan perasaannya pada Anita, dan Anita menerimanya.
“Tapi kamu tidak harus pacaran dengannya! Aku masih cinta dengan kamu! Tapi kamu memutuskan aku!” kata Jun keras, “Seharusnya aku melakukan ini dari dulu. Membunuh kamu sepertinya lebih menyenangkan daripada harus melihatmu dengan Akira.”
“Jadi… semua ini hanya akalmu supaya kamu membunuh aku?”
“Lebih baik kamu mati dari pada menjadi pacar Akira.”
Riska yang melihat perdebatan kakaknya dengan Jun berusaha melepaskan tangannya dari teman Jun.
“Lepasin aku!” kata Riska sambil berusaha melepaskan tangannya.
“Diam kamu!” ujar temannya.
Tapi Riska tidak menyerah. Riska mendekatkan mulutnya ke tangan teman Jun yang memegangnya dan menggigitnya. Membuat teman Jun itu mengaduh kesakitan dan tanpa sadar mengendurkan pegangannya pada Riska. Kesempatan itu Riska gunakan untuk melepaskan dirinya.
“Kak Anita!!”
Anita menoleh kearah Riska dan segera berlari menghampirinya. Tapi Jun melihat itu. Dia segera melepaskan tembakan ke kaki kanan Riska dan tepat mengenainya.
Anita segera menghampiri Riska yang terjatuh dengan kaki berdarah. Riska merintih kesakitan karena luka tembak itu.
“Riska? Kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Anita.
Riska menggeleng pelan sambil merintih kesakitan. Dan Anita tahu Riska sangat kesakitan. Dia menatap tajam pada Jun. “Kamu pengecut!”
“Sekali lagi kamu bilang itu, kepalamu yang akan kutembak.” Kata Jun.
Hatori yang melihat kejadian itu semakin memanas, langsung mengomando anak buahnya untuk segera mengepung Jun.
“Semuanya! Kepung mereka!”
Jun yang melihat polisi mendekati mereka langsung mengumpat.
“Sudah kubilang jangan lapor polisi!”
“Aku tidak pernah melapor pada polisi.” Kata Anita. “Tapi memang kamu dan teman-teman kamu harus ditangkap.”
Jun memandang marah pada Anita. Dia segera mengambil tas berisi uang yang dibawa Anita dan menyuruh teman-temannya untuk pergi dari sana.
“Teman-teman! Kita kabur!”
Jun berlari diikuti teman-temannya. Sebelum berlari, ia mengarahkan pistolnya kearah Anita dan melepaskan tembakan, yang langsung mengenai punggung Anita. Darah segar langsung mengalir keluar dari dada Anita karena peluru yang ditembakkan Jun menembus dadanya. Anita langsung jatuh terduduk ke tanah.
“Kakak!” jerit Riska.
Tapi ternyata jeritan Riska bertambah keras saat teman Jun yang tadi membawa pisua menusukkan pisau yang dibawanya ke dada Anita yang tertembus peluru. Membuat Anita semakin kesakitan. Darah tidak hanya keluar dari dadanya, tapi juga dari mulutnya.
Teman Jun yang tadi menusuknya langsung berlari mengikuti Jun. Tapi terlambat. Salah seorang anak buah Hatori melepaskan tembakan kearah kakinya.
Riska memeluk kakaknya yang terkulai lemas ditanah sambil menangis. Darah masih mengucur deras dari luka tembak di dada Anita.
“Kakak??? Kak Anita??? Kak Anita, bangun kak…”
Tapi Anita tidak menjawab. Matanya terpejam.
Hatori mendekati Riska dan Anita yang terluka. Ia lalu memeriksa keadaan Anita. “Dia terluka parah. Kita harus membawanya ke rumah sakit.” Katanya. Kemudian segera memanggil salah seorang anak buahnya dan memintanya memanggil ambulans.
Setengah jam kemudian ambulans datang dan segera memberikan pertolongan pertama pada Anita. Riska menangis tersedu-sedu saat melihat kakaknya dibawa dengan tandu menuju ambulans. Hatori memeluknya untuk menenangkan Riska.
“Sudah nak… jangan menangis. Sebaiknya kamu ikut menemani kakakmu di ambulans itu. Nanti biar paman yang mengurus penjahat-penjahat itu.” Kata Hatori.
“Tapi, tapi, Kak Anita…”
“Tidak apa-apa. Dia pasti akan baik-baik saja.” Kata Hatori lagi, “Sebaiknya kamu menemaninya. Ayo.”
Riska mengangguk pelan. Kemudian ikut masuk ke dalam ambulans yang membawa Anita ke rumah sakit.
***
Kaori dan teman-temannya sampai dirumah sakit tempat Anita dirawat. Mereka segera menuju ruang UGD. Didepan ruang UGD, Riska duduk di kursi disana sambil masih tetap menangis.
“Riska?” Kaori mendekati Riska. Mei, Ayano, dan juga Ruri ikut mendekati Riska.
Riska mendongak menatap Kaori. Matanya sembap. “Kak Kaori…”
Kaori segera memeluk Riska, “Sudah… tidak usah menangis lagi.”
“Kak Anita terluka gara-gara aku Kak… Riska yang sudah membuat Kak Anita tertembak.” Kata Riska sambil menangis.
Kaori membelai rambut Riska, “Sudah… tidak usah menangis lagi. Kamu berdoa supaya Anita tidak kenapa-napa. Ya?”
Riska mengangguk pelan.
“Kakak sudah memberitau Papa dan Mama Riska?”
“Sudah. Mereka akan segera pulang kesini.” Kata Mei.
Lampu ruang UGD mati seiring seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Kaori dan teman-temannya segera bertanya pada dokter itu.
“Bagaimana keadaan teman saya?” Tanya Mei.
Dokter itu memandang mereka bergantian, “Apa kalian keluarganya?”
“Kami teman-temannya. Ini adiknya. Dia yang dari tadi bersama teman saya yang terluka itu.” Kata Kaori.
“Orangtuanya?”
“Sedang dalam perjalanan dari Amerika. Mereka akan segera tiba sebentar lagi.” Kata Ruri. “Katakan saja pada kami dokter. Apa dia baik-baik saja?”
Dokter itu memandang mereka lagi dan menghela nafas. Sepertinya dia akan memberikan kabar buruk untuk mereka.
“Sebelumnya saya minta maaf. Tapi kami sudah berusaha sebisa yang kami bisa.” Kata dokter itu pelan. Tapi masih dapat didengar oleh Kaori dan yang lain. Juga Riska.
“A, apa maksud dokter? Anita tidak apa-apa kan?” Tanya Mei.
“Nyawanya tidak bisa diselamatkan,” ujar dokter itu, “Peluru yang mengenai dadanya menembus paru-parunya. Dan tusukan pisau itu mengenai hatinya. Kami berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di paru-parunya, tapi karena Anita-san mengalami kekurangan darah, dan juga ia punya penyakit anemia, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Paru-parunya yang robek akibat tembakan membuatnya sulit bernafas.”
“Apa?? Dokter jangan bercanda! Dia tidak mungkin meninggal!” kata Kaori. Semua yang mendengarnya juga tidak kalah kaget. Apalagi Riska.
“Kakak baik-baik saja kan? Dia selamat kan, dokter?” Tanya Riska.
“Riska…” Mei tiba-tiba memeluk Riska sambil menangis.
“Kak Mei kenapa? Kak Anita tidak apa-apa kan? Iya kan?”
“Dok, tidak mungkin Anita meninggal. Dia orang yang kuat! Tidak mungkin dia meninggal hanya karena tertembak dan tertusuk pisau!” kata Ruri juga tidak percaya. Matanya berkaca-kaca mendengar kalau Anita meninggal.
“Tapi itulah kenyataannya. Anita-san mengalami kekurangan darah yang cukup banyak. Ditambah lagi dia mempunyai penyakit anemia yang membuat sel-sel darah merahnya menjadi sedikit. Kami sudah berusaha menggantikan sel-sel darah merah yang hilang dengan obat yang kami suntikkan untuk menambah sel darah merah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Anita-san sudah pergi… untuk selamanya.”
Riska mendongak menatap dokter itu, “Kakak saya tidak apa-apa kan Dokter?”
Kaori menatap Riska dan memeluknya. Dan demi melihat teman-teman kakaknya yang menahan tangis, Riska tau maksudnya. Tapi dia masih tidak percaya. Dia terus bertanya sampai airmatanya kembali tumpah.
“Kak Anita tidak apa-apa kan? Kak Mei? Kak Kaori? Iya kan? Kak Anita tidak apa-apa kan?” Tanya Riska.
Kaori menatap wajah Riska. Mata Kaori terlihat sembap. Dokter tadi minta ijin untuk pergi ke ruangannya dan menunggu kedua orangtua Riska dan Anita yang sebentar lagi akan datang.
“Kak…”
“Riska… kamu yang sabar ya?” kata Ayano sambil membelai rambut Riska.
“Kak… Kak Anita baik-baik saja kan?” Tanya Riska, “Dia nggak kenapa-napa kan?”
“Riska,” Kaori memegang kedua bahu Riska, “Anita… Anita… dia…”
“Kak Kaori mau ngomong apa sih? Kak Anita baik-baik saja kan?” Tanya Riska lagi. Dia merasa perasaannya tidak enak.
“Ris…” kata Kaori, “Anita… dia sudah nggak ada…”
“Maksud kakak?”
“Dia meninggal Ris…” kata Ayano, “Lukanya sangat parah. Peluru yang ditembakkan padanya menembus paru-paru dan tusukan pisau itu mengenai hatinya hingga dia tidak bisa bertahan dan…”
“Nggak!!!!” Riska menjerit sambil menggeleng, “Kak Anita nggak mungkin mati! Kak Anita nggak mungkin mati!!!”
“Ris… tenang Ris…”
“Kak Anita janji akan mengajak Riska ke Disneyland lagi! Kak Anita sudah janji…” Riska mulai terisak lagi. “Kak Anita udah janji…”
Kaori dan Mei memeluk Riska yang kembali terisak. Mereka juga merasakan kesedihan yang Riska rasakan. Kehilangan teman, sekaligus motivator mereka menjalani keartisan mereka. Seorang motivator yang ceria dan selalu bersemangat walau dia diterpa masalah berat sekalipun. Itu merupakan kehilangan terbesar dalam hidup mereka.
“Ini… ini semua salah Riska… Riska yang sudah membuat Kak Anita meninggal…” isak Riska.
“Riska, jangan bilang begitu…” kata Ruri.
“Tapi benar kan? Riska yang sudah membuat Kak Anita meninggal. Riska nggak hati-hati saat Riska tersesat di Disneyland tadi sampai Riska diculik dan membuat Kak Anita meninggal.” Kata Riska, “Ini semua salah Riska…”
“Riska! Jangan bilang hal seperti itu…”
“Tapi itu semua salah Riska… Riska yang sudah membuat Kak Anita mati…”
“Ris…”
“Riska nggak mau Kak Anita pergi! Riska mau menyusul Kak Anita! Riska mau mati juga! Riska mau mati!”
“Riska!! Riska!!” Mei menolehkan wajah Riska hingga sejajar dengan wajahnya.
Riska menangis semakin keras. Mei menghapus airmata Riska dengan jarinya. “Riska nggak boleh bicara seperti itu. Riska harus tegar. Nggak baik bicara seperti tadi. Kakakmu pasti tidak suka kalau kamu berkata begitu.”
Riska menangis sesunggukan, “Kak Anita janji akan membawa Riska ke Disneyland lagi. Kak Anita sudah janji…”
“Riska,” Ayano berjongkok di depan Riska, “Kakakmu masih ada Riska. Disini. Dihati kamu. Kamu ingat saat kami memberi kejutan ulang tahun untukmu?” katanya, “Anita selalu menginginkan siapapun yang ada didekatnya, termasuk kamu, merasa senang. Merasa bahagia. Anita selalu menyemangati kita, menyemangati kamu saat kamu sakit. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Hanya raganya yang mati. Tapi jiwanya tidak. Jiwanya masih ada di hati kita.”
Riska mendengarkan perkataan Ayano. Dia terdiam walau airmatanya masih keluar.
“Ayano benar Riska,” kata Ruri. “Anita tidak mati. Dia masih ada dihati kita. Dihati kamu. Kamu harus ingat, Anita selalu membuatmu tersenyum bukan? Dia selalu ingin membahagiakan kamu. Adik yang paling disayanginya.”
Riska mengangguk pelan, “Kak Anita selalu membuat Riska tersenyum. Selalu membuat Riska tertawa.”
Kaori tersenyum, “Karena itu, kamu jangan sedih lagi. Kak Kaori, dan yang lain akan selalu membahagiakan kamu menggantikan Anita. Kami janji.” Katanya sambil memeluk Riska. Ayano, Mei, dan juga Ruri juga memeluk Riska.
“Kakak janji akan selalu membahagiakan Riska?” Tanya Riska.
“Kami janji. Kami akan selalu membahagiakan kamu. Sesibuk apapun kami.” Kata Ruri, “Karena itu kamu jangan menangis. Ya?”
Riska mengangguk sambil tersenyum. Dia menyeka airmata yang masih mengalir di pipinya. “Iya.”
***
Lima tahun kemudian, tepat di hari ulang tahun Riska yang ketujuh belas…
Riska menatap langit yang agak mendung. Cuaca di Palangka Raya hari ini tidak bisa dikatakan buruk ataupun baik. Sedang-sedang saja. Sejak kakinya lumpuh, Riska belum mau pergi keluar negeri untuk mengobati kakinya. Katanya sih masih belum mau pisah dengan teman-temannya disini.
Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Riska mendorong kursi rodanya dengan kedua tangannya dan membukakan pintu. Wajah Andre langsung terlihat, juga Desi dan yang lain.
“Hai Riska…!” Desi dan Sasha langsung memeluk Riska. Linda dan Santi bergantian cipika-cipiki dengan Riska.
“Lo nggak ngeliat pengumuman nilai di UNPAR (Universitas Palangka Raya. Bukan Universitas Padjajaran. Bener nggak tuh kependekan Universitas Padjajaran itu UNPAR? Ato UNPAD?)? Lo jadi mahasiswi terpinter di jurusan Bahasa! Selamat ya…”
Riska tersenyum tipis. Andre duduk di sebelah Riska, “Kalo aku tertinggi di jurusan Biologi. Tepatnya kedokteran.”
“Iye iyee… elo emang jagonya sekarang.” Kata Doni, “Kalo gitu, kalo gue sakit, gue numpang periksa ke elo aja. Gratis kan?”
“Belum beneran jadi dokter udah disuruh periksa. Gue racunin lo, baru tau rasa ntar…” cibir Andre.
Desi dan yang lain tertawa mendengar candaan mereka berdua. Mereka semua memang sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi sekarang di Universitas Palangka Raya ato yang biasa disingkat dengan nama UNPAR. Banyak juga teman-teman mereka yang masuk situ. Kebanyakn sih lari ke jurusan hokum ato ke kedokteran. Desi, Linda, Sasha, dan juga Santi sendiri mengambil jurusan kedokteran. Sama dengan Andre. Sedang Doni ngambil jurusan geografi karena dia dulu anak IPS.
“Hiii… syerem…” kata Doni dengan nada dibuat-buat, “Takut deh ah…”
“Lo kok jadi kayak banci gitu sih Don?” kata Sasha, “Lagi kumat ya?”
“Enak aja! Nggaklah… Cuma pengen ngerjain Andre aja.”
“Jujur amat lo.” Kata Andre, “Ntar giliran gue yang ngerjain elo. Liat aja ntar.”
Riska hanya tersenyum mendengar candaan teman-temannya.
Pintu kamar diketuk dari luar. Dari luar, Bi Ani masuk kedalam membawakan minuman untuk mereka semua.
“Oya Non, ada yang mau ketemu.” Kata Bi Ani.
“Siapa Bi? Temen Riska?” Tanya Riska sambil menyeruput minumannya. Haus juga dia ternyata. Buktinya baru nyedot minuman, udah abis setengah gelas! Padahal dari tadi dia nggak ngapa-ngapain.
“Bukan deh kayaknya. Tapi mereka cantik-cantik. Kulitnya putih. Kayaknya orang bule deh.”
Bule? Perasaan dia nggak punya kenalan ato temen orang bule.
“Emang sekarang mereka nunggu dimana?” Tanya Linda.
“Bibi suruh nunggu diruang tunggu. Tapi mereka nggak ngerti. Pake bahasa… apa itu? Yang negeri Sakura itu? Jepang?”
“Iya. Jepang. Seratus untuk Bi Ani.” Kata Doni bercanda lagi.
“Orang Jepang?”
“Iya. Kayaknya sih Non. Coba deh Non liat dulu. Daripada mereka lama nungguin.” Kata Bi Ani. “Permisi dulu Non…”
“Iya.”
“Emang lo punya kenalan orang Jepang?” Tanya Sasha.
“Temen-temen gue juga ada di Jepang. Tapi gue nggak ngasih tau dimana gue tinggal. Gue cuman bilang ke mereka kalo gue tinggal di Indonesia sekarang.” Kata Riska, “Kira-kira siapa ya?”
“Kita liat dulu yuk? Siapa tau itu emang bener temen-temen lo dari Jepang.” Kata Sasha.
“Boleh. Gue juga mau tau siapa yang datang.”
Andre dengan sigap langsung mendorong kursi roda Riska. Mereka lalu segera ke ruang tamu.
***
Sampai di ruang tamu. Riska melihat empat orang cewek cantik berkulit putih. Dandanan mereka rata-rata memang J-Style semua. Bahkan potongan rambut mereka. Wajah mereka apalagi. Kayak baru tujuh belas tahunan! Padahal kayaknya mereka udah umur dua puluh tahunan. Salah seorang dari keempat cewek itu melihat Riska yang menuju kearah mereka.
“Riska?”
Serentak ketiga temannya menoleh kearah Riska. Dan tersenyum. Riska melihat mereka semua membawa kado.
Riska mengerutkan kening. Bagaimana mereka bisa tau namanya sedangkan dia sendiri tidak tau mereka siapa.
Salah seorang dari mereka yang berambut panjang dan diikat ala buntut kuda berdiri dan mendekati Riska. Teman-temannya yang lain mengikuti.
“Lama nggak ketemu Riska. Kamu tambah cantik saja. Makin mirip dengan Anita.” Katanya dalam bahasa Jepang.
“Maaf, kamu siapa ya?” Tanya Riska dalam bahasa Jepang juga.
Cewek itu tertawa pelan. Bikin Riska tambah bingung (apalagi yang lain, yang nggak ngerti bahasa Jepang!).
“Masa kamu nggak mengenali kami? Apa wajah kami banyak berubah?” Tanya cewek yang berambut pendek sebahu dan dicat coklat.
“Kamu benar-benar lupa dengan kami?” Tanya yang lain. Kali ini cewek berambut panjang berwarna agak kemerahan.
Riska menggeleng.
“Kalau begitu, kamu pasti tidak lupa dengan acara kita ke Disneyland di Jepang dulu. Saat kamu berulangtahun yang kedua belas.” Kata cewek yang berambut panjang dan diikat buntut kuda.
Disneyland? Di Jepang?
Seketika itu juga Riska menepuk keningnya.
“Ya ampun… Kak Kaori? Kak Ayano? Kak Ruri? Kak Mei?” kata Riska. Akhirnya dia ingat juga siapa mereka. “Ya ampun… kalian membuatku kaget. Bagaimana kalian bisa tau alamatku disini?”
Cewek berambut panjang dan diikat buntut kuda tadi yang ternyata adalah Kaori tersenyum, “Akhirnya ingat juga.” Katanya, “Tentu saja kami tahu. Kami kan minta alamat rumahmu yang sekarang dari ayahmu. Beliau meminta kami datang.”
“Dari Papa? Dan Papa nggak ngasih tahu Riska kalau Kakak akan kesini? Papa bener-bener deh…”
“Katanya, ingin membuat kejutan untukmu.” Kata Ayano. “Karena itu kami setuju untuk datang. Lagipula kami sudah lama nggak bertemu denganmu. Kamu tambah cantik saja.”
“Makasih…”
Desi yang ada didekat Riska langsung berbisik, “Siapa mereka Ris? Temen lo?”
Riska menoleh kearah Desi dan menggeleng sambil tersenyum, “Bukan. Mereka temen-temen almarhum kakak gue, Anita.”
“Kak Kaori, Kak Ayano, Kak Mei, Kak Ruri, kenalin teman-teman Riska. Ini Desi, Linda, Sasha, Santi, Doni, dan yang ini Andre.” Kata Riska memperkenalkan mereka, “Temen-temen, ini Kak Kaori, Kak Ayano, Kak Mei, dan Kak Ruri. Mereka adalah girlband Charm Girls dari Jepang.”
“Charm Girls??!! Charm Girls yang itu? Yang dari Jepang????” Tanya Desi. “Huwaaaa… gue ngefans banget ama mereka!! Nggak nyangka lo ternyata kenal ama mereka. Eh, tapi lo bilang almarhum kakak lo temen mereka? Apa jangan-jangan… kakak lo dulu juga member Charm Girls?”
“Iya.” Jawab Riska pendek.
“Riska… lo kenapa nggak bilang dari dulu sih???”
“Lo nggak nanya sih…” kata Riska sambil meleletkan lidahnya.
“Salam kenal ya?” kata Kaori dalam bahasa Inggris yang lumayan fasih.
“Riska? Itu pacar kamu?” Tanya Mei sambil menunjuk Andre.
Riska hanya tersenyum. Membuat Mei merasa tebakannya benar. “Wah… sudah punya pacar ternyata. Namanya siapa? Andre ya?”
“Iya. Dia Andre.” Kata Riska.
“Salam kenal ya Andre-kun?” kata Mei. Andre yang nggak terlalu ngerti bahasa Jepang cuma mengangguk pelan.
“Oya, Kak Kaori dan yang lain mau memberi kejutan apa untuk Riska?” Tanya Doni dalam bahasa Jepang yang fasih (tentu aja. Soalnya di SMAFOUR ada pelajaran bahasa Jepang. Dan bahasa Jepang adalah salah satu pelajaran favorit Doni).
“Kami mau memberikan ini.” Kaori menunjuk hadiah yang ada ditangannya dan juga ditangan Mei, Ayano dan Ruri. “Hadiah untuk Riska. Kami sudah janji untuk memberikan hadiah untuknya setiap dia ulang tahun.”
“Ya ampun, Kak…” kata Riska, “Harusnya nggak perlu repot-repot.”
“Nggak kok…” kata Ayano, “Kami nggak keberatan kalau harus pergi ke Indonesia setiap kali kamu ulang tahun. Demi menepati janji kami.”
“Iya. Kami masih memegang janji itu kok.” Sambung Mei.
Riska tersenyum, “Makasih ya?”
“Iya.” Kata Kaori, “Ini. Hadiah untuk kamu. selamat ulang tahun ya?”
Riska menerima hadiah dari Kaori dan yang lain. Semua kado itu ukurannya besar-besar. Kayaknya isinya gede-gede semua.
“Hari ini Riska ulang tahun?” Tanya Doni.
“Iya.” Kata Desi, “Ya ampun… kok gue jadi lupa sih? Riska… met ulang tahun ya/”
Desi memberi selamat pada Riska. Begitu juga Linda dan yang lain, termasuk Andre.
“Aduh Ndre… ulang tahun pacar lo kok nggak inget sih? Pacar apaan lo?” kata Doni mulai menggoda Andre lagi.
“Yee… lo kira gue lupa?” kata Andre membalas godaan Doni, “Gue inget. Malahan gue punya kejutan untuk dia.”
“Apa?” Tanya Desi. Riska juga memandang Andre.
“Ada deh… ntar malem aja!”
“Yah… beritau dong Ndre…”
“Kagak. Enak aja! Nggak surprise dong ntar.” Kata Andre.
Riska hanya tertawa pelan. “Ya udah. Nggak papa kok. Tapi ntar malem ya?”
“Iya pacarku yang manis…”
Riska menoleh kearah Kaori dan yang lain, “Kak, ayo masuk ke dalam. Pasti kakak punya banyak cerita untuk Riska kan? Biar nanti kalo temen-temen Riska nggak ngerti apa cerita kakak, Doni yang akan menerjemahkannya.” Kata Riska menunjuk Doni. “Lo bisa kan Don?”
“Tentu aja…” kata Doni.
“Boleh. Kami memang ada cerita untuk kamu. tentang tur konser kami nanti. Rencananya kami mau menggelar konser di tiga negaa, termasuk Indonesia.” Kata Ayano.
“Apa katanya Don?” Tanya Desi.
“Katanya mereka mau menggelar tur konser di tiga Negara. Termasuk di Indonesia.” Kata Doni.
“Beneran??? Iiiyy… gue mau nonton!!!”
Kaori yang melihat Desi agak girang bertanya pada Riska, “Dia kenapa?”
“Dia ingin menonton konser kakak nanti. Dia penggermar berat Charm Girls.” Kata Riska.
“Ooo… begitu? Kalau mau, kalian bisa datang kok. Konsernya tinggal dua minggu lagi. Nanti soal tiket, biar kami yang mengurus. Tempat duduk kalian nanti di paling depan.”
“Makasih kak…”
“Ayo kita masuk dulu. Bi Ani kayaknya udah nyiapin minuman untuk mereka.” Kata Sasha.
Mereka lalu masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam, Mei sempat bertanya pada Riska.
“Riska?”
Riska menoleh kearah Mei yang mendorong kursinya menggantikan Andre. “Iya?”
“Kamu… kenapa sekarang duduk di kursi roda? Apa ada yang terjadi?” Tanya Mei.
Riska mengangguk pelan, “Mantan pacarku hampir membunuhku.”
“Mantan pacarmu?”
“Iya. Tapi untunglah aku tidak apa-apa. Hanya mengalami kelumpuhan saja. Kata Papa, kakiku bisa sembuh lagi kok. Dengan operasi di luar negeri.” Kata Riska, “Ceritanya cukup panjang.”
“Nanti kamu harus ceritakan semuanya pada kami.” Kata Mei.
“Baiklah…”
“Apa kamu masih memimpikan Anita?” Tanya Mei lagi.
“Riska terdiam sebentar kemudian menggeleng, “Tidak. Tidak terlalu sering. Kadang-kadang aku memang masih memimpikannya.”
“Kemarin kakak memimpikannya.” Kata Mei pelan. Sekarang mereka sudah sampai di ruang tamu. Terlihat Desi dan yang lain mengobrol dengan Kaori, Ruri, dan Ayano dengan Doni sebagai penerjemah.
“Kak Mei memimpikan Kak Anita?”
Mei mengangguk. “Kakak memimpikannya. Anita meminta kakak untuk pergi ke suatu tempat.”
“Kemana?”
“Ke tempat dimana kita pernah menikmati Hanami (acara menikmati keindahan bunga Sakura) dulu. Katanya dia mengubur sesuatu disitu. Kakak tidak memberitahu pada siapapun termasuk Kaori dan yang lain. Kakak pergi mencarinya sendiri. Dibawah pohon Sakura yang ada pahatan nama Anita dan Akira, disanalah ada sesuatu yang dikuburkannya disitu.”
“Kakak behasil menemukannya. Dan itu ternyata hadiah untukmu dan Akira. Di dalam kotak yang menyertai hadiah itu ada surat. Dan surat itu ditujukan untuk kalian berdua.”
“Kakak membawa kotak itu?” Tanya Riska.
Mei mengangguk, kemudian merogoh sesuatu dari tas yang dibawanya. Sebuah kotak kayu yang agak kusam karena sudh lama terkubur didalam tanah.
“Buka saja, tapi jangan disini. Kakak takut itu akan merusak kejutan untukmu dari Anita.” Kata Mei.
Riska tersenyum sambil menerima kotak itu dari tangan Mei. “Tentu saja. Aku akan membukanya nanti.”
“Anita juga mengatakan sesuatu pada kakak.”
“Apa ang dikatakan Kak Anita?” Tanya Riska.
“Aishiteru. Zutto zutto aishiteru. Watashi wa taisetsu na imouto, otanjyoubi omedetou. Itu yang dikatakannya untukmu.”
Riska hanya tersenyum muram. Arti kata yang diucapkan Mei tadi adalah “Aku menyayangimu. Sangat sangat menyayangimu. Adikku yang paling berharga, selamat ulang tahun”. Sama seperti yang selalu diucapkan Anita setiap kali Riska berulang tahun.
“Makasih udah menyampaikan itu Kak Mei.” Kata Riska sambil menghapus setitik airmata yang mengalir dipipinya.
“Sama-sama. Kakak juga senang sudah menyampaikan itu untukmu.” Kata Mei.
“Eh, Riska,” panggil Linda.
“Apa?”
“Ayo dong… ikutan ngobrol ama kita! Pacar lo dari tadi kesepian nih nggak ada pujaan hatinya.”
“Yee… sembarangan aja! Ntar nggak gue kasih tau kejutan buat Riska ntar apaan.” Kata Andre sambil mengacak rambut Linda.
“Waaa! Riska… pacar lo nih…”
Riska tertawa pelan melihat kelakuan Linda, “Iya iya…”
Akhirnya Riska dan Mei ikutan mengobrol. Suasananya sangat heboh. Ada aja yang dilakukan Doni dan Andre. Sambil saling mengejek. Membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak. Tapi Riska masih kepikiran dengan kotak yang ada ditangannya. Teman-temannya memang melihat kotak itu. Tapi tidak bertanya lebih jauh. Termasuk Andre. Dia tau tidak enak jika menanyakan tentang kotak itu pada Riska sekarnag.
***
Setelah teman-temannya pulang, termasuk Kaori dan yang lain (juga Andre. Soalnya dia masih nyiapin kejutan untuk Riska!), Riska masuk ke kamar dan membuka kotak yang tadi diberikan Mei padanya.
Di dalam kotak itu ada sebuah kotak musik dan juga sebuah kartu ucapan berwarna pink dengan gambar bunga Sakura. Kartu ucapan seperti itu sangat terkenal. Orang-orang di Jepang percaya, jika kita menuliskan nama kita dan juga nama pasangan kita, hubungan kita akan menjadi lebih dekat dan langgeng selamanya (bener ato nggaknya Riska nggak tau). Ada dua kartu seperti itu. Riska mengeluarkan semua yang ada dikotak itu, termasuk sebuah amplop biru yang langsung dibukanya dan membaca surat yang ada didalamnya.
Dear Riska adikku sayang,
Kakak sengaja menulis surat ini karena mungkin kakak nggak akan bisa menemani kamu lagi suatu hari nanti. Di dalam kotak yang berisikan surat ini, kamu pasti menemukan kotak musik, dan juga dua kartu ucapan kan? Itu untuk kamu. sebagai hadiah ulang tahun kamu nanti. Kakak sengaja menyimpannya di bawah akar pohon Sakura yang dulu sering kita lihat.
Kotak musik itu sengaja kakak simpan diam-diam setelah kamu merengek minta dibelikan kotak musik itu saat tur konser pertama Charm Girls. Kamu ingat kan? Waktu itu kamu sampai menangis karena minta dibelikan kotak musik itu. Karena itu, setelah kamu dan yang lain keluar dari toko tempat kita melihat kotak musik itu, kakak langsung membelinya dan menyimpannya sebagai hadiah ulang tahun kamu nanti. Kakak harap kamu nggak marah dengan kakak ya?
Mengenai dua kartu ucapan yang ada disini juga, itu kakak beli khusus untuk kamu. Dan juga pacar kamu kalau kamu sudah punya pacar. Kakak membelinya di Kyoto. Katanya, kartu ucapan itu membawa keberuntungan. Karena itu kakak membeli banyak sekali. Untuk Kaori dan yang lain juga. Dan Akira. Khusus untuk kamu, Riska, kakak memberikan kartu yang paling bagus dan cantik. Kamu suka kan? Apalagi ada gambar bunga Sakura. Kamu kan suka bunga Sakura. Semoga kamu senang ya? Oya… tulis nama kamu dan pacar kamu di kartu itu supaya membawa keberuntungan dan berikan padanya. Kalau kamu punya pacar sih. Hehehe…
Mungkin, cukup ini saja kata-kata dari kakak. Selamat ulang tahun ya Riska. Walau nanti kakak sudah nggak ada lagi disamping kamu, mainkan kotak musik itu. Agar kamu nggak kesepian lagi. Sekali lagi. Selamat ulang tahun ya Riska. Otanjyoubi omedetou!
Anita
Riska menghapus airmata yang mengalir dipipinya. Disaat terakhir, kakaknya masih saja memberikan hadiah ulang tahun untuknya. Riska jadi ingat, kata orang-orang dulu, jika ada suatu hal yang masih menjadi pikiran orang yang sudah meninggal, maka jiwanya tidak dapat tenang. Untuk menenangkan jiwanya, biasanya ada orang tertentu yang mendapat mimpi bertemu orang tersebut. Dan menyuruhnya untuk menyelesaikan hal yang belum diselesaikan oleh orang yang meninggal tersebut.
Dan kakaknya meminta lewat Mei sebagai perantara untuk memberikan hadiah itu untuknya.
“Kakak… seharusnya kakak nggak perlu membelikan ini, juga nggak papa. Kenangan bersama kakak itu adalah hadiah terindah untukku kak.” Gumam Riska sambil membuka tutup kotak musik itu, yang langsung dari dalamnya keluar alunan musik yang lembut.
Riska mengambil dua kartu ucapan itu dan segera mengambil pulpen di meja belajarnya.
Riska tersenyum saat melihat tulisan tangannya di kartu ucapan itu. “Semoga Andre suka dengan ini.” Katanya lirih. Ia lalu bersandar di punggung kursi rodanya sambil memandangi kartu ucapan itu ditangannya.
“Jadi nggak sabar untuk nanti malam…”
***
Malam harinya,
Andre udah datang. Bareng Desi dan Doni. Andre memang meminta bantuan ama temen-temen yang lain untuk memberikan kejutan pada Riska. Riska sendiri ditelpon Andre jam setengah lima sore tadi untuk siap-siap menerima kejutan.
Riska mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar. Di luar, Andre, Desi, dan Doni udah menunggu.
“Maaf y ague lama dandannya.” Kata Riska.
“Nggak papa. Lagian mereka pasti masih nyiapin kejutan buat elo.” Kata Desi. Riska tersenyum.
Andre segera menghampiri Riska dan mendorong kursi rodanya untuk menuju mobil.
“Oya Ndre,”
“Ya?”
“Aku mau ngasih kamu ini…” Riska merogoh sesuatu di tasnya dan mengeluarkan kartu ucapan yang tadi dia tulisi dengan namanya dan Andre dengan huruf katakana Jepang. “Buat kamu. aku juga punya satu di dompetku.”
Andre menerimanya dan melihat kartu ucapan itu. “Ini… jangan-jangan…”
“Itu kan kartu ucapan keberuntungan yang langka di Jepang!!?” Desi dan Doni udah menyerobot kata-kata yang mau Andre ucapin. “Ris, lo dapet darimana?”
“Dari Kak Mei. Sebagai hadiah ulang tahun dari Kak Anita. Kak Mei memberikan itu karena permintaan Kak Anita dulu untuk memberikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk gue.” Kata Riska.
“Iiiiyy… gue juga mau. Ini kan langka banget Ris. Katanya Cuma dijual selama dua minggu pada bulan tertentu. Huwaaa… kepengen nih…”
“Udah ah. Ayo kita cepetan ke tempat kejutan untuk Riska. Daripada ntar telat.” Kata Andre.
***
Rupanya Riska mendapat kejutan dari Andre berupa nongkrong bareng teman-teman yang lain di jalan Yos Sudarso yang setiap malam (apalagi malam minggu) penuh dengan kafe-kafe tenda. Disana emang selalu rame setiap malam. Selain karena suasana disana cukup bagus karena berdekatan dengan mulut jalan yang menuju langsung ke Bundaran Besar, disana juga bisa menyewa jasa para pengamen untuk membawakan lagu-lagu yang diminta (tentu aja dengan imbalan! Kalo nggak, rugi dong pengamennya!). Beberapa kafe hanya memasang lilin untuk menciptakan suasana romantis. Sedangkan kafe-kafe yang lain memutar musik yang cocok buat ngedugem. Jadi bisa dibilang disini adalah salah satu surganya para remaja di kota Palangka Raya yang kepingin malmingan bareng si doi.
“Seharunya kalian nggak perlu membawaku kesini…” kata Riska saat mereka turun dari mobil dan langsung menuju kafe yang penuh dengan teman-teman mereka. Lagi pada asyik makan ato ngobrol.
“Loh? Itu bukannya Kak Kaori ama yang lain? Kok mereka ada disini?” Tanya Riska yang melihat Kaori, Ayano, Mei, dan juga Ruri lagi nyanyi di depan teman-temannya. Beberapa dari temen-temennya mengikuti gerakan dance Kaori dan yang lain.
“Sengaja kita undang untuk meriahin ulang tahun lo.” Kata Desi.
“Kalian ini…” kata Riska, “Tapi makasih ya? Ini bener-bener kejutan yang bener-bener hebat banget.”
“Jangan terima kasih ama kita. Andre tuh yang punya ide…” kata Doni.
“Makasih ya Ndre?”
Andre mencium pipi Riska, “Sama-sama. Yang penting, sebelum kamu ke luar negeri untuk berobat, kamu tenangin aja pikiran kamu sama kita. Disini kan masih banyak yang harus dilakuin.” Kata Andre.
“Iya pacarku…”
“Ciee… mesra amat neng…” kata Desi.
Yogi yang melihat mereka segera memanggil untuk bergabung. Mereka lalu ikut bergabung bersama yang lain dan menikmati makanan dan minuman yang tersaji sambil mengobrol dan bercanda.
Inilah kebersamaan bersama teman-teman yang selalu setia satu sama lain. Riska memandangi mereka semua dengan perasaan haru. Walau dia lumpuh, mereka tidak membedakan atau menjauhinya seperti orang-orang kebanyakan yang ogah deket-deket ama orang cacat. Riska bersyukur punya temen-temen seperti mereka semua. Kaori mengajak Riska untuk menyumbangkan suaranya.
Awalnya Riska menolak, tapi akhirnya mau juga karena Kaori terus memaksa.
Sambil bernyanyi, Riska memikirkan sesuatu. Dia sangat berterimakasih kakaknya sangat perhatian padanya selama ini. Bahkan Kaori, Mei, Ayano, dan Ruri juga sangat perhatian padanya. Terutama teman-temannya. Dan juga Andre.
Kak Anita, aku udah nemuin kebahagiaan yang kakak maksud dulu. Sekarang aku nggak sedih lagi. Aku senang kakak selalu bersamaku waktu itu. Kenangan bersama kakak nggak akan aku lupakan. Kata Riska dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar